لسلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Baca subjek diatas yang saya kutip dari detik.com jadi tertarik juga untuk mendalami maknanya, benar tidak sih ...kemapuan negara kita untuk menghadapi musuh dari luar cukup dapat diandalkan, tinjauan utamanya mungkin dari jumlah personil, persenjataan dan anggaran untuk pertahanan.
Kesiap-siagaan kita dalam berperang, memang suatu hal yang harus dipenuhi: mulai dari mobilisasi pernonil dan persenjataan serta logistik memang harus masuk dalam tatanan menagement perang, namun betapun sistem management perang yang andal tanpa didukung oleh system inteligent yang bagus, akan berpengaruh pada quick respond dalam memobilisasi semua sumber yang ada.
Jadi penekanan dalam kondisi damai yang ada harus sepenuhnya mendapat informasi yang benar-benar valid dari sumber inteligent yang memadai...apakah sumber inteligent kita sudah benar-benar mapan dan dapat diandalkan..?? ini pertanyaan rumit yang susah dijabarkan karena bagaimanpun juga namanya juga inteligent pasti geraknya bagai siluman dan lingkupya kasat mata dan diluar ranah berita nasional, tapi yang pasti sumber-sumber ancaman nasional kalau boleh saya sarikan ada 10 ancaman menurut Dephan RI, yakni : Terorisme, Gerakan separatis bersenjata, Kelompok Radikal, Konflik Komunal, Kerusuhan Sosial, Perompakan dan Pembajakan Laut, Imigrasi Ilegal, Ilegal Fishing, Ilegal Logging dan Penyelundupan, dan Gangguan terhadap Pemerintahan Daerah.
Kalau melihat sumber ancaman yang ada sepertinya ancaman dari negara tetangga tidak masuk dalam hitungan oleh Dephan, padahal sering kita dengar melalui media nasional bahwa sengketa dan Provokasi yang dilakukan oleh angkatan Bersenjata diraja Malaysia di Kawasan Ambalat dan juga dikawasan Perbatasan antara negara Kita dan Malaysia di kawasan Kalimantan Barat dimana terjadi pemindahan Patok Batas wilayah...kalau membaca berita ini Miris rasanya hati saya, dimana kewibawaan NKRI ini....????
Tak sudi saya Damai kalau hati dan jiwa saya diinjak-injak....lalu mulai dari mana kita membangun kewibawaan NKRI, ada pepatah mengatakan " Kewibawaan suatu Bangsa akan dihargai kalau Angkatan Bersenjatannya Kuat ", Nah, sudah kuatkah Angkatan bersenjata Kita..?, saya belum bisa menjawab pertanyaan itu sebelum saya bisa menjabarkan kemampuan Angkatan Bersenjata kita yang sekarang sudah populer dengan sebutan TNI, ada beberapa parameter yang bisa kita gunakan sebagai referensi :
1. Anggaran Pertahanan
RAPBN tahun 2008 sedikit memberikan angin segar bagi Dephan dan TNI, Pemerintah menganggarkan Dana sebesar Rp 33,7 Trillun untuk TNI, angka tersebut sedik mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan angka tahun 2007 sebesar Rp 31,5 Trilliun. Namun angka tersebut masih jauh dari cukup untuk Angkatan Bersenjata kita, untuk Asia tenggara saja anggaran sebesar itu masih minim, saat ini anggaran militer kita hanya sebesar 0,93% dari Produk Domestik Bruto ( PDB ). Angka tersebut masih kurang standard untuk menciptakan kekautan Angkatan Bersenjata minimal, bahkan untuk mencapai kekuatan utama diperlukan anggaran 4-5% dari PDB, anggaran yang 0,93% itupun lebih dari 50% nya tereserap untuk keperluan diluar pengembangan sistem persenjataan, dana tersebut hanya untuk kesejatraan Prajurit, bela negara dan fasilitas Militer, untuk Alutsista ( Alat Utama Sistem Pertahanan ) sendiri hanya menikamati sisa dari pos-pos anggaran tersebut.
2. Persenjataan ( Alutsista ).
Membaca harian Kompas tanggal 20 Februari kemarin tentang Dua pesawat Sukhoi SU-30 milik TNI AU dikunci missile pihak tidak dikenal ketika berlatih intersepsi udara di wilayah udara pesisir selatan Sulawesi Selatan, secara awam subuah pesawat tempur akan membidikkan rudalnya jika sudah memenuhi target sasaran...dan saat itulah biasanya sebuah pesawat lain nya akan mengunci Missille pesawat tersebut...jadi posisi terkunci bila sudah membidik...bila tidak membidik atau tidak mengaktifkan missile maka tidak mungkin lah missile aktif tersebut dikunci. dan pertanyaan kedua : kok rada aneh bin ajaib ini berita bener apa tidak sih...masak rahasia militer bisa bocor ke media nasional, ada seberkah pertanyaan menggelitik yang perlu dipahami, ini berita diekspos seperti ini ada tujuan apa...???

Memang Pesawat tempur kita, banyak yang sudah tua dan untuk penggantian atau renewal pesawat dibutuhkan dana yang tidak sedikit, jumlah armada terbaru yang dimiliki oleh TNI AU untuk armada Sukhoi yakni SU-27 : 7 units dan SU-30 : 3 units, dan Dephan juga mempertimbangkan untuk menambah pesawat F-16 6 units lagi, dari 10 unit F-16 yang ada 4 diantaranya sudah tidak laik pakai, mudah-mudahan pengadaan pesawat ini segera terwujud. Selain dari itu Armada Udara juga sudah dilengkapi oleh enam unit Helikopter tempur Mi-17-VB yang dipesan Indonesia dari Rusia pada 2003, yang tiba di Pangkalan Udara TNI Angkatan Laut (Lanudal) Surabaya, tanggal 6 agustus 2008.
Selain dari kemampuan Persenjataan Udara, negara kita juga membutuhkan Armada laut yang memadai, untuk menggantikan armada laut yang sudah tua dan usang , adapun kapal baru yang kita miliki yakni jenis Korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) ini merupakan kapal tempur siluman (stealth), satu dari empat kapal jenis sama yang akan memperkuat armada TNI AL, dua kapal yang sudah diserahterimakan adalah KRI Diponogoro ( 365 ) dan KRI Hasanudin ( 366 ). Kapal seharga EUR139 juta (Rp 1,7 triliun) per unit ini tidak bisa dijejak oleh radar, karena gelombang elektromagnetiknya direfleksikan ke arah lain dan sebagian diserap oleh badan kapal, KRI Sultan Iskandar Muda-367 & KRI Frans Kaisiepo-368 akan segera menyusul.
Selain itu kapal siluman ini juga dilengkapi dengan rudal permukaan ke udara, permukaan ke permukaan, torpedo dan berbagai alat penjejak seperti sonar dan radar. Dalam situasi damai, kapal siluman ini bisa mendekat tanpa diketahui sasaran, misalnya kapal asing pencuri ikan, dan kemudian melumpuhkannya.
Untuk kapal cepat dengan bobot mati 190 DWT, anak bangsa ini sudah mampu membuat kapal sendiri terbukiti dengan diluncurkannya 2 unit kapal Patroli Cepat yakni KRI Krait-827 dan KRI Tarihu-829, dua kapal ini dibuat oleh Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau. Kedua kapal ini mempunyai jarak jelajah sekitar 2.500 mil, memiliki jangkauan Radar dan komunikasi yang sudah cukup luas, panjang 40 m, lebar 7,3 m dan dilengkapi dengan persenjataan meriam Twin barrel dan 2 buah senapan mesin berat 12,7 mm. Kecepatan kapal bisa mencapai 25 knot.
Untuk Persenjataan Angkatan Darat lebih ditekankan pada persenjataan buatan dalam negeri yang disupply oleh PT. Pindad, dimana baru-baru ini serah terima Panser buatan Pindad yang diberi nama Anoa dilakukan, adapun jumlah Panser yang direncanakan untuk dibuat Pindad berjumlah 154 Unit ( Jawa Pos 27 Februari 2008 ).
3. Personel Militer
Besar kecilnya jumlah Personil Milter ditentukan oleh : Kondisi Geografis, Luas Wilayah, dan Faktor ancaman terhadap Negara, saat ini terdapat 382.236 tentara dari berbagai kesatuan, dimana komposisinya adalah 292.976 Prajurit AD, 60.126 Prajurit AL dan 29.134 Prajurit AU.
Total luas wilayah Indonesia termasuk lautan yang harus dijaga seluas 1.919.440 km2. wilayah seluas ini terbagi ke dalam 17.504 pulau besar maupun kecil yang tersebar sepanjang Nusantara. Tercatat di darat, Indonesia bersinggungan langsung sepanjang 2.830 km dengan tiga negara. yakni Timor Leste sepanjang 228 km, Malaysia 1.782 km, dan Papua Nugini 820 km. Indonesia juga tercatat sebagai salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia yakni sepanjang 54.716 km.
Jika kita lihat sekilas nampak bahwa angka tersebut cukup besar, bahkan sejumlah sumber menyebutkan bahwa jumlah total personel TNI menepati posisi ke 13 di dunia, namun betapapun juga jumlah tentara haruslah disesuaikan dengan kebutuhan pengamanan wilayah Indonesia. Idealnya jumlah tentara disuatu negara adalah 0.4% dari total jumlah penduduk, jadi bila jumlah penduduk kita 220 juta, maka kondisi ideal personel militer kita seharusnya 880.000 Personel militer, sedangkan Personel militer yang kita punya sekarang ini adalah 0,14%.
4. Latihan Perang yang teritegrasi dan berkesinambungan.
Bagaimanapun juga latihan perang adalah suatu yang harus masuk agenda dalam sistem Pertahanan negara ini, tujuan latihan sebenarnya untuk mempertahankan dan meningkatkan kesiapan komponen sistem senjata armada terpadu (SSAT) dan profesionalisme prajurit dalam menghadapi dan mengantisipasi segala ancaman, baik dari dalam maupun dari luar.
Selain latihan Komando persatuan TNI, latihan gabungan juga diperlukan latihan perang bersama dengan negara-negara tetangga, selain meningkatkan Profesionalisme Prajurit juga dapat meningkatkan tali persaudaraan antar prajurit negara tetangga. Namun latihan bersama sebagai manifestasi dari perjanjian kerjasama pertahanan dengan negara tetangga harus memenuhi nilai tambah bagi TNI pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, jangan sampai dengan adanya latihan bersama tersebut bangsa indonesia merasa dirugikan karena mengikuti aturan yang dimiliki oleh negara tersebut, seperti halnya pada saat kita latihan militer bersama dengan angkatan bersenjata Singapura.
Dengan penjelasan diatas, dapatlah sedikit kita pahami mengenai kekuatan TNI kita, dari jumlah anggaran militer yang kurang dari 1 %, Personel yang hanya 0,14% dan kekuatan persenjataan yang belum cukup memadai, maka sewajarnyalah bila negara tetangga memandang sebelah mata dengan kekuatan Angkatan Bersenjata kita. Hal ini-pun berdampak pada berbagai hubungan dan perundingan diplomatik yang cenderung merugikan kepentingan Indonesia. Sehingga tidak jarang Singapura, Malaysia, dan Australia melakukan berbagai kebijakan yang melukai bahkan menghina martabat bangsa Indonesia.
Sebut saja misalnya kasus Sipadan, Ligitan, Ambalat, pembajakan budaya, lagu, dan kerajinan hingga TKI dengan kerajaan Malaysia. Begitu juga Singapura yang berani menerima pasir curian dan seludupan Indonesia dan melindungi para koruptor yang membawa triliunan rupiah uang rakyat Indonesia. Hal serupapun datang dari Australia yang melakukan spionase di tanah Cendrawasih. Hal ini tentu berbeda dikala pemerintah Soekarno, Indonesia menjadi ‘Macan Asia’ yang disegani, Kapan Indonesia akan kembali seperti saat Pemerintahan Presiden Pertama Sukarno.....wallahu a'lam.
Tangerang, 28 Februari 2008.
Wassalam,
2. Persenjataan ( Alutsista ).
Membaca harian Kompas tanggal 20 Februari kemarin tentang Dua pesawat Sukhoi SU-30 milik TNI AU dikunci missile pihak tidak dikenal ketika berlatih intersepsi udara di wilayah udara pesisir selatan Sulawesi Selatan, secara awam subuah pesawat tempur akan membidikkan rudalnya jika sudah memenuhi target sasaran...dan saat itulah biasanya sebuah pesawat lain nya akan mengunci Missille pesawat tersebut...jadi posisi terkunci bila sudah membidik...bila tidak membidik atau tidak mengaktifkan missile maka tidak mungkin lah missile aktif tersebut dikunci. dan pertanyaan kedua : kok rada aneh bin ajaib ini berita bener apa tidak sih...masak rahasia militer bisa bocor ke media nasional, ada seberkah pertanyaan menggelitik yang perlu dipahami, ini berita diekspos seperti ini ada tujuan apa...???
Memang Pesawat tempur kita, banyak yang sudah tua dan untuk penggantian atau renewal pesawat dibutuhkan dana yang tidak sedikit, jumlah armada terbaru yang dimiliki oleh TNI AU untuk armada Sukhoi yakni SU-27 : 7 units dan SU-30 : 3 units, dan Dephan juga mempertimbangkan untuk menambah pesawat F-16 6 units lagi, dari 10 unit F-16 yang ada 4 diantaranya sudah tidak laik pakai, mudah-mudahan pengadaan pesawat ini segera terwujud. Selain dari itu Armada Udara juga sudah dilengkapi oleh enam unit Helikopter tempur Mi-17-VB yang dipesan Indonesia dari Rusia pada 2003, yang tiba di Pangkalan Udara TNI Angkatan Laut (Lanudal) Surabaya, tanggal 6 agustus 2008.
Selain dari kemampuan Persenjataan Udara, negara kita juga membutuhkan Armada laut yang memadai, untuk menggantikan armada laut yang sudah tua dan usang , adapun kapal baru yang kita miliki yakni jenis Korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) ini merupakan kapal tempur siluman (stealth), satu dari empat kapal jenis sama yang akan memperkuat armada TNI AL, dua kapal yang sudah diserahterimakan adalah KRI Diponogoro ( 365 ) dan KRI Hasanudin ( 366 ). Kapal seharga EUR139 juta (Rp 1,7 triliun) per unit ini tidak bisa dijejak oleh radar, karena gelombang elektromagnetiknya direfleksikan ke arah lain dan sebagian diserap oleh badan kapal, KRI Sultan Iskandar Muda-367 & KRI Frans Kaisiepo-368 akan segera menyusul.
Selain itu kapal siluman ini juga dilengkapi dengan rudal permukaan ke udara, permukaan ke permukaan, torpedo dan berbagai alat penjejak seperti sonar dan radar. Dalam situasi damai, kapal siluman ini bisa mendekat tanpa diketahui sasaran, misalnya kapal asing pencuri ikan, dan kemudian melumpuhkannya.
Untuk kapal cepat dengan bobot mati 190 DWT, anak bangsa ini sudah mampu membuat kapal sendiri terbukiti dengan diluncurkannya 2 unit kapal Patroli Cepat yakni KRI Krait-827 dan KRI Tarihu-829, dua kapal ini dibuat oleh Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau. Kedua kapal ini mempunyai jarak jelajah sekitar 2.500 mil, memiliki jangkauan Radar dan komunikasi yang sudah cukup luas, panjang 40 m, lebar 7,3 m dan dilengkapi dengan persenjataan meriam Twin barrel dan 2 buah senapan mesin berat 12,7 mm. Kecepatan kapal bisa mencapai 25 knot.
Untuk Persenjataan Angkatan Darat lebih ditekankan pada persenjataan buatan dalam negeri yang disupply oleh PT. Pindad, dimana baru-baru ini serah terima Panser buatan Pindad yang diberi nama Anoa dilakukan, adapun jumlah Panser yang direncanakan untuk dibuat Pindad berjumlah 154 Unit ( Jawa Pos 27 Februari 2008 ).
3. Personel Militer
Besar kecilnya jumlah Personil Milter ditentukan oleh : Kondisi Geografis, Luas Wilayah, dan Faktor ancaman terhadap Negara, saat ini terdapat 382.236 tentara dari berbagai kesatuan, dimana komposisinya adalah 292.976 Prajurit AD, 60.126 Prajurit AL dan 29.134 Prajurit AU.
Total luas wilayah Indonesia termasuk lautan yang harus dijaga seluas 1.919.440 km2. wilayah seluas ini terbagi ke dalam 17.504 pulau besar maupun kecil yang tersebar sepanjang Nusantara. Tercatat di darat, Indonesia bersinggungan langsung sepanjang 2.830 km dengan tiga negara. yakni Timor Leste sepanjang 228 km, Malaysia 1.782 km, dan Papua Nugini 820 km. Indonesia juga tercatat sebagai salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia yakni sepanjang 54.716 km.
Jika kita lihat sekilas nampak bahwa angka tersebut cukup besar, bahkan sejumlah sumber menyebutkan bahwa jumlah total personel TNI menepati posisi ke 13 di dunia, namun betapapun juga jumlah tentara haruslah disesuaikan dengan kebutuhan pengamanan wilayah Indonesia. Idealnya jumlah tentara disuatu negara adalah 0.4% dari total jumlah penduduk, jadi bila jumlah penduduk kita 220 juta, maka kondisi ideal personel militer kita seharusnya 880.000 Personel militer, sedangkan Personel militer yang kita punya sekarang ini adalah 0,14%.
4. Latihan Perang yang teritegrasi dan berkesinambungan.
Bagaimanapun juga latihan perang adalah suatu yang harus masuk agenda dalam sistem Pertahanan negara ini, tujuan latihan sebenarnya untuk mempertahankan dan meningkatkan kesiapan komponen sistem senjata armada terpadu (SSAT) dan profesionalisme prajurit dalam menghadapi dan mengantisipasi segala ancaman, baik dari dalam maupun dari luar.
Selain latihan Komando persatuan TNI, latihan gabungan juga diperlukan latihan perang bersama dengan negara-negara tetangga, selain meningkatkan Profesionalisme Prajurit juga dapat meningkatkan tali persaudaraan antar prajurit negara tetangga. Namun latihan bersama sebagai manifestasi dari perjanjian kerjasama pertahanan dengan negara tetangga harus memenuhi nilai tambah bagi TNI pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, jangan sampai dengan adanya latihan bersama tersebut bangsa indonesia merasa dirugikan karena mengikuti aturan yang dimiliki oleh negara tersebut, seperti halnya pada saat kita latihan militer bersama dengan angkatan bersenjata Singapura.
Dengan penjelasan diatas, dapatlah sedikit kita pahami mengenai kekuatan TNI kita, dari jumlah anggaran militer yang kurang dari 1 %, Personel yang hanya 0,14% dan kekuatan persenjataan yang belum cukup memadai, maka sewajarnyalah bila negara tetangga memandang sebelah mata dengan kekuatan Angkatan Bersenjata kita. Hal ini-pun berdampak pada berbagai hubungan dan perundingan diplomatik yang cenderung merugikan kepentingan Indonesia. Sehingga tidak jarang Singapura, Malaysia, dan Australia melakukan berbagai kebijakan yang melukai bahkan menghina martabat bangsa Indonesia.
Sebut saja misalnya kasus Sipadan, Ligitan, Ambalat, pembajakan budaya, lagu, dan kerajinan hingga TKI dengan kerajaan Malaysia. Begitu juga Singapura yang berani menerima pasir curian dan seludupan Indonesia dan melindungi para koruptor yang membawa triliunan rupiah uang rakyat Indonesia. Hal serupapun datang dari Australia yang melakukan spionase di tanah Cendrawasih. Hal ini tentu berbeda dikala pemerintah Soekarno, Indonesia menjadi ‘Macan Asia’ yang disegani, Kapan Indonesia akan kembali seperti saat Pemerintahan Presiden Pertama Sukarno.....wallahu a'lam.
Tangerang, 28 Februari 2008.
Wassalam,